Potongan cerita saat di kelas itu. Tempat Tuhan mempertemukan saya dengan pasangan masa lalu ~mantan~. Ya, ketika perasaanmu terbang seperti layangan, lalu terjatuh akan sakit kan?
PS:yang gambar mantan saya
berlari mengejar mimpi...
Potongan cerita saat di kelas itu. Tempat Tuhan mempertemukan saya dengan pasangan masa lalu ~mantan~. Ya, ketika perasaanmu terbang seperti layangan, lalu terjatuh akan sakit kan?
PS:yang gambar mantan saya
Sendiri itu gak baik. Sendiri itu identik dengan menyedihkan. Sendiri itu tentang hati yang gersang. Sendiri itu tentang labirin yang tak pernah terselesaikan. Sendiri itu tidak rasional.
Karena setiap makhluk selalu berpasang-pasang. Suka mengelompokkan diri mereka. Lantas, masih mau jadi single fighter di Dunia ini?
Jadi, jangan pernah berpikir tentang saya. Berpikirlah tentang kita. Karena dunia terlalu luas untuk di habiskan secara individual.
Tentang band kesukaan saya, Muse. Entahlah. Semenjak saya "melek internet", saya jadi menyukai Muse. Musik mereka, lirik-lirik mereka, tampilan mereka, seperti berbicara soal idealisme. Mereka tidak berbicara hal yang sembarang dalam sebuah lagu. Lirik lagu mereka tidak asal tulis. Butuh pemikiran cerdas agar semuanya tampak mengena. Dan setiap video klip mereka ~yang pernah saya tonton~ idenya tuh gak asal jadi. Muse itu mewah dalam benak saya. Muse itu soal taste yang beda. Muse itu sebuah idealisme musik ~menurut saya~. Memang terbukti, di kelas playlist musik saya sangat-sangat berbeda dengan teman kebanyakan. Saat yang lain digandrungi dengan K-pop, saya lebih suka memenuhi playlist dengan band-band baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Salah satunya, Muse.
Dan semoga Allah menginjikan, saya ingin menonton konser mereka suatu hari nanti. :)
Aku tergolong pemimpi akut. Suka mem-visualisasi-kan mimpi dalam pikiran. Yah, memang jauh dari realistis. Entahlah. Aku mencoba memumpuk mimpi itu setiap harinya. Menyiramnya dan memberikan energi baginya agar berfotosintesis dalam benakku. Ok, sekarang kita bahas tentang Paris. Aku ingin sekali pergi ke kota itu. Soal Menara Eiffel-nya memang jadi daya tarik tersendiri. Duduk berdua dengan orang yang aku cintai di bawahnya.Ya, menghabiskan waktu bersama walau sekedar saling menatap. Atau menikmati senja dalam pelukannya. Impian wajibku suatu hari nanti. Dan aku ingin merealisasikan secepatnya.
Kedewasaan itu masalah klasik. Aku sering menemui, orang yang bertambah umur tapi tidak bertambah dewasa. Mungkin aku juga demikian. Bersembunyi di balik kata usia dan seolah-olah sudah merasa dewasa. Ya, mendapat kebijaksanaan yang tak terkira. Tahu soal pahit-manis kehidupan. Yah, aku tau. Aku cuma sesosok remaja 17 tahun yang tergolong pemimpi akut. Jauh dari arti kata realistis. C'mon, haruskah ketika bermasalah saling diam-diaman satu sama lain? Memelihara kecurigaan satu sama lain? Membicarakan kejelekan satu sama lain? Ataukah soal kata ikhlas yang diumbar-umbar? Terlalu anak kecil banget kan? Dan membuang-buang waktu bersama yang cukup lama tanpa mencoba memahami satu sama lain. Sudah dewasakah itu?. Tentang orangtua memang sulit dimengerti.
Hai, aku kembali hadir mengisimu. Kali ini tentang twitter. Ya, 140 karakter itu sangat menyebalkan buatku. Pas nge-tweet panjang-panjang, eh malah kepotong. Semenjak berikrar untuk tidak menyingkat kata di dunia maya, memang agak kerepotan. Pemikiran-pemikiran cerdas seolah terhambat kalo di twitter. Orang bisa salah paham di twitter. Aku ngerti, mungkin founder twitter menginginkan segala sesuatunya singkat,padat, jelas. Ya, tapi itu. Untuk melestarikan bahasa indonesia yang baik dan benar, aku rasa twitter tidak sependapat dngan itu.